Kenduri Malam Selikuran, Tradisi Masyarakat Menyambut Keutamaan Malam Ramadan 1447 H/2026 M

  • Mar 10, 2026
  • Kim_padukuhantapansari

Kenduri Malam Selikuran merupakan salah satu tradisi yang masih dilestarikan oleh masyarakat Jawa, khususnya di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya, dalam menyambut kemuliaan malam-malam terakhir bulan suci Ramadan. Tradisi ini dilaksanakan pada malam ke-21 Ramadan yang diyakini sebagai salah satu malam penuh berkah dan memiliki peluang turunnya Lailatul Qadar, yaitu malam yang lebih baik dari seribu bulan.

‎Istilah Selikuran sendiri berasal dari bahasa Jawa, yaitu “selikur” yang berarti dua puluh satu. Malam tersebut menjadi momentum bagi masyarakat untuk meningkatkan ibadah, memperbanyak doa, serta melakukan refleksi diri dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT.

‎Tradisi Malam Selikuran berakar dari budaya masyarakat Jawa yang sarat dengan nilai-nilai spiritual dan keagamaan. Masyarakat meyakini bahwa pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadan, terutama malam ke-21, Allah SWT melimpahkan rahmat, berkah, dan ampunan-Nya kepada umat yang bersungguh-sungguh dalam beribadah.

‎Di Padukuhan Tapansari, pelaksanaan Kenduri Malam Selikuran diisi dengan kegiatan yang dikenal dengan istilah “masang”. Warga membawa berbagai hidangan dari rumah masing-masing untuk kemudian dikumpulkan di Balai Padukuhan. Makanan yang dibawa selanjutnya didoakan oleh kaum adat atau tokoh masyarakat setempat sebagai ungkapan rasa syukur dan permohonan berkah kepada Allah SWT.

‎Setelah doa bersama, kegiatan dilanjutkan dengan makan bersama seluruh warga yang hadir. Momen ini menjadi simbol kebersamaan, kekeluargaan, serta mempererat hubungan sosial antarwarga masyarakat.

‎Di tengah arus modernisasi, masyarakat Padukuhan Tapansari tetap berupaya melestarikan tradisi Malam Selikuran sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan budaya leluhur sekaligus penguatan nilai-nilai keagamaan. Meskipun terdapat beberapa penyesuaian dalam pelaksanaannya, makna utama dari tradisi ini tetap terjaga, yakni memperkuat ikatan spiritual serta solidaritas sosial di tengah masyarakat.

‎Dengan terus dilestarikannya tradisi ini, diharapkan generasi muda dapat memahami, menghargai, dan menjaga kekayaan budaya serta nilai-nilai agama yang telah diwariskan oleh para pendahulu. Malam Selikuran tidak hanya menjadi momentum ibadah, tetapi juga menjadi sarana untuk mempererat persaudaraan dan kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat.