Potensi Alam, Bu… Punthuk Tapansari: Potensi Alam, Budaya, dan Sejarah Padukuhan Tapansari
- Apr 18, 2026
- Kim_padukuhantapansari
Padukuhan Tapansari, Kalurahan Watusigar, Kapanewon Ngawen, Kabupaten Gunungkidul, memiliki potensi alam dan budaya yang menarik Salah satu potensi tersebut adalah sebuah bukit dengan puncak yang lapang dan dipenuhi rerumputan hijau, yang dikenal masyarakat sebagai Punthuk Tapansari. Meski lokasinya cukup tersembunyi, kawasan ini menyuguhkan pemandangan alam yang memikat. Dari puncaknya, terlihat jelas Gunung Gambar menjulang di sebelah utara, serta deretan Gunung Panggung di arah tenggara.
Keunikan Punthuk Tapansari tidak hanya terletak pada panorama alamnya, namun juga pada jejak budaya yang masih dapat ditemui hingga saat ini. Di sekitar kawasan bukit, terdapat lukisan pada bebatuan berupa gambar tokoh-tokoh wayang yang diyakini telah dibuat sejak masa lampau. Keberadaan lukisan bebatuan tersebut menjadi salah satu bukti kuat bahwa Punthuk Tapansari memiliki nilai historis dan budaya yang hidup, sekaligus menambah daya tarik kawasan sebagai ruang edukasi dan pelestarian warisan lokal.
Selain itu, masyarakat Padukuhan Tapansari juga masih menjaga tradisi turun-temurun berupa kenduri pada hari tertentu, sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus upaya melestarikan cerita serta peristiwa masa lampau yang berkembang menjadi legenda wilayah setempat. Tradisi ini menjadi bagian penting dari identitas masyarakat Tapansari dan memperkuat nilai kebersamaan serta gotong royong.
Juru kunci setempat, Bapak Padmo Sukirno (68), menyampaikan bahwa berdasarkan cerita para pendahulu, kawasan puncak Punthuk Tapansari diyakini pernah menjadi lokasi pertemuan dan musyawarah beberapa tokoh yang dikenal sebagai Wali Bayat. Tokoh-tokoh tersebut di antaranya Raden Mas Said, Sri Lambang, Ki Ageng Wono Kusumo, serta Sunan atau Ki Ageng Giring. Dalam riwayat yang berkembang di masyarakat, musyawarah tersebut membahas rencana mencari tempat baru karena wilayah Bayat saat itu sudah semakin padat.
Setelah pertemuan tersebut, para tokoh dikisahkan melanjutkan perjalanan ke berbagai arah. Raden Mas Said disebut pernah singgah di Gunung Gambar sebelum melanjutkan perjalanan ke beberapa wilayah lain. Sementara itu, Sri Lambang dikisahkan memilih tempat di Sendang Karangasem, Semin, dan sempat beristirahat di lokasi yang kemudian dikenal sebagai Pasar Mlambang, nama yang masih digunakan hingga saat ini. Adapun Ki Ageng Wono Kusumo dan Ki Ageng Giring melanjutkan perjalanan ke arah selatan, melewati wilayah yang kemudian dinamai berdasarkan ciri alamnya, seperti Gebang dan Klampok.
Kekayaan alam, tradisi, serta kisah sejarah yang melekat pada Punthuk Tapansari menjadi potensi untuk mengembangkan informasi lokal, memperkuat identitas wilayah, serta mendorong promosi wisata berbasis kearifan lokal. Dengan dokumentasi yang baik, publikasi yang tepat, dan pengelolaan yang berkelanjutan, Punthuk Tapansari diharapkan dapat menjadi salah satu ikon kebanggaan masyarakat sekaligus mendukung pengembangan potensi ekonomi, budaya, dan pariwisata.